Karya: Lina Budiartiningrum (SMP N 3 Banguntapan)
Angin mengiringi mentari ke tepi barat
Sepasang elang terbang mengepak langit
Kau tetap menceriterakan dirimu sendiri
Ibu, aku turut menangis di celah dadamu
Sebab betapa pedih masa remaja itu
Bulan habis dimakan betara kala
Lintang kemukus semakin kuning terang
Kau tetap menyanyi asmaradana
Sebagai kidung pelipur lara
Ratapan nan menggores jiwa
Aku tak sanggup mendengarnya
Pagi datang tersenyum di bibir jendela
Menempel embun pagi pada kaki dan rambutmu
Ibu, ijinkanlah aku berangkat hari ini
Mengemban dhawuh atas segala citamu
Matahari tergantung di pusar awang
Membakar perempatan kota tempat aku berteduh
Tempat menatap segala kemungkinan
yang selalu aku tinggal dan menjadi kenangan
yang selalu aku lalui lagi menjadi kelelahan
Tiada apa-apa disana kecuali haus dahaga
Inikah bumi perantauan yang engkau tunjuk?
Lihatlah, ibu, segalanya berangkat dari maksiat
Berpacu bersama maksiat, berakhir bersama maksiat
Senja hancur, kedamaian hancur, cita-cita hancur, semuanya hancur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar